Medan, Langkatoday.com – Gerakan kampanye anti judi online bertajuk “GASS POL Tolak Judol! Jauhi Judi – Anak Medan Pilih Masa Depan, Bukan Judi Online” digelar di Kota Medan, Rabu (13/5).
Kegiatan tersebut menjadi ajang edukasi sekaligus penguatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya judi online yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan menyasar seluruh lapisan masyarakat.
Kampanye tersebut menghadirkan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, praktisi strategi komunikasi keberlanjutan Rike Amru, konten kreator Wawan Wandou, serta tokoh agama Ustad Abdul Muhadir Ritonga.
Dalam pemaparannya, Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa judi online kini telah menjadi persoalan nasional yang berdampak luas, termasuk terhadap anak-anak.
“Jumlah anak-anak yang juga menjadi korban judi online hampir 200 ribu orang, dan sekitar 80 ribu di antaranya merupakan anak-anak di bawah usia 10 tahun. Jadi ini penting bagi kita membuka ruang untuk menyampaikan bahwa masalah ini luar biasa besar,” ujar Meutya.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak hanya fokus melakukan pemblokiran dan penutupan situs judi online, tetapi juga terus memperkuat edukasi serta literasi digital kepada masyarakat agar memahami dampak buruk praktik tersebut.
“Pemerintah hadir bukan hanya untuk menutup akses, tetapi juga menjangkau masyarakat dan menyampaikan fakta-fakta yang terjadi. Cerita para ibu tentang dampak judi online bukan untuk membuka aib, tetapi menjadi pembelajaran bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Meutya, dampak judi online tidak hanya menghancurkan kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga memicu berbagai persoalan sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), renggangnya hubungan keluarga, hingga rusaknya masa depan anak-anak.
“Banyak laporan yang kami terima mengenai keluarga yang hancur karena judi online. Ada istri yang menjadi korban, ada anak-anak yang kehilangan perhatian orang tua, bahkan muncul tindakan kekerasan akibat kecanduan judi online,” ungkapnya.
Ia menambahkan, korban judi online berasal dari berbagai kalangan, mulai dari laki-laki, perempuan, orang dewasa, anak-anak hingga masyarakat kurang mampu.
“Judi online ini menyasar semua kelompok. Karena itu pemberantasannya harus dilakukan bersama-sama,” tegasnya.
Meutya juga menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam memerangi judi online, mulai dari aparat penegak hukum, perbankan, OJK hingga platform media sosial.
“Kalau hanya situsnya ditutup tetapi pelakunya tidak ditangkap, maka situs baru akan terus bermunculan. Karena itu semua pihak harus bergerak bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjauhi praktik judi online yang dinilai hanya membawa kesengsaraan.
Ia menegaskan bahwa judi online tidak mungkin memberikan keuntungan nyata kepada pemain karena sistem permainan telah diatur sedemikian rupa.
“Judi online itu tidak bisa menang karena sistemnya sudah di-setting. Saya berharap masyarakat menjauhi judol karena hanya membawa kesengsaraan,” kata Rico.
Dalam kesempatan itu, Rico juga menyinggung langkah tegas yang pernah diambilnya terhadap aparatur pemerintahan yang terlibat judi online.
“Saya bahkan pernah mencopot camat karena diketahui bermain judi online,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri ratusan kaum ibu dari berbagai kecamatan di Kota Medan. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mengenai bahaya judi online.
Dalam sesi dialog, para ibu menyampaikan langsung keresahan mereka terkait dampak judi online yang dinilai telah merusak ketenangan rumah tangga, ekonomi keluarga, hingga masa depan anak-anak.
Gerakan “GASS POL Tolak Judol” diharapkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat kesadaran masyarakat agar menjauhi praktik judi online serta menjaga masa depan generasi muda dari ancaman ruang digital yang tidak sehat.

.png)





