Dinkes Sumut Temukan 162 Balita Stunting di Medan

- Pewarta

Selasa, 31 Maret 2026 - 23:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

☕ Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Medan, Langkatoday.com – Dinas Kesehatan Sumatera Utara menemukan sebanyak 162 balita yang menderita stunting. Jumlah tersebut didapat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 79.926 balita.

“Stunting dan gizi buruk ini dua hal yang berbeda sebenarnya, walaupun sama-sama masalah gizi. Jadi kalau untuk di Kota Medan, data stunting kita sampaikan bahwasanya per tanggal 10 Februari 2026, itu dilaporkan ada 162 balita yang kondisinya stunting. Nah, data ini bersumber dari aplikasi SiGizi Terpadu kita. Jadi, dari jumlah balita yang diukur sebanyak 79.926, ditemukanlah 162 balita dalam kondisi stunting. Itu khusus untuk di Kota Medan,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis Pada wartawan, Senin (30/3)

Baca Juga:  Siswa SMP Negeri 1 Medan Diduga Diculik, dan Dirampok Sepulang Sekolah

Menurut Hamid, ada dua penyebab adanya stunting. Penyebab langsung nya dapat berupa asupan gizi yang kurang memadai secara gizi dan penyakit menular seperti TBC, diare, dan cacingan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ada penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung itu yang pertama adalah asupan gizi. Bagaimana asupan gizi yang masuk ke balita itu, apakah secara kuantitas atau volumenya kurang, atau secara kualitas atau gizinya yang tidak memadai. Kemudian penyebab langsung yang kedua adalah penyakit menular. Jadi kalau balitanya menderita penyakit menular seperti TBC, diare, atau kecacingan, maka asupan gizi yang masuk itu akan ‘dimakan’ oleh penyakitnya tadi, sehingga balitanya menjadi gizi buruk,” ujarnya.

Baca Juga:  Fenomena Calo Tiket AFF U-19 di Sumut, Harga Resmi Rp100 Ribu Jadi Rp600 Ribu

Untuk penyebab tidak langsung dapat berupa kesalahan dalam pola asuh dan pemberian makan terhadap anak, misalnya pemberian makanan berat untuk bayi yang seharusnya masih ASI ekslusif.

“Pengetahuan atau pola asuh dari orang tua atau pengasuhnya. Misalnya bayi usia 0 sampai 6 bulan yang harusnya hanya mendapat ASI eksklusif, tapi sudah diberikan makanan padat atau makanan berat. Ini kan sebenarnya belum bisa diterima oleh pencernaannya dan bisa merusak sistem pencernaan si bayi,” jelasnya.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penembakan Wadan Koti PP di Deli Serdang, Polda Sumut Tangkap Tiga Terduga Pelaku
Dokter Muda Ini Sentil Plt Bupati Langkat Soal Jalan Rusak dan ISPA
Safari Pers TNI AL di Kodaeral I, Waaspers Kasal Tinjau Fasilitas Kesehatan dan Barakuda
Kualitas Udara Stabat Masuk Kategori Tidak Sehat, AQI Tembus 108
Batam dan Sekitarnya Blackout, Pasokan Air Bersih dan Internet Terganggu
Bobby Nasution Mengaku Pernah Dimintai Uang Oknum Jaksa, Kejati Sumut Benarkan Ada Dua Jaksa Disanksi
Hermawan Merasa Dikhianati, Muscab PPP Medan Disorot: Calon Tunggal Tersingkir, Nama Baru Muncul
Viral! Kondisi Memprihatinkan Mobil Dinas Berplat Merah di Binjai Picu Sorotan Warganet

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Penembakan Wadan Koti PP di Deli Serdang, Polda Sumut Tangkap Tiga Terduga Pelaku

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 03:56 WIB

Dokter Muda Ini Sentil Plt Bupati Langkat Soal Jalan Rusak dan ISPA

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Safari Pers TNI AL di Kodaeral I, Waaspers Kasal Tinjau Fasilitas Kesehatan dan Barakuda

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Kualitas Udara Stabat Masuk Kategori Tidak Sehat, AQI Tembus 108

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:03 WIB

Batam dan Sekitarnya Blackout, Pasokan Air Bersih dan Internet Terganggu

Terbaru