Jakarta, Langkatoday.com – Umat Islam di seluruh dunia sebentar lagi akan menyambut hari kemenangan, Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah. Momen ini merupakan garis finis setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan, di mana pada hari tersebut umat Islam justru diharamkan untuk berpuasa.
Larangan ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari: Idul Fitri dan Idul Adha.”
Karena pentingnya kepastian tanggal tersebut, penentuan 1 Syawal harus dilakukan dengan sangat hati-hati, baik melalui pengamatan hilal (rukyah) maupun perhitungan astronomi (falak).
Sejarah Perbedaan Waktu di Zaman Sahabat
Perbedaan waktu hari raya bukanlah hal baru dalam sejarah Islam. Bahkan, di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW, perbedaan ini pernah terjadi antara wilayah Syam (Suriah) dan Madinah.
Kisah ini abadi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Kuraib, seorang tabiin yang saat itu diutus menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib menceritakan pengalamannya melihat hilal Ramadhan di Syam pada malam Jumat.
Namun, ketika Kuraib kembali ke Madinah di akhir bulan, ia mendapati perbedaan mencolok. Abdullah bin Abbas RA bertanya kepadanya: “Kapan kamu melihat hilal (Ramadhan)?”
Kuraib menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jumat, dan orang banyak termasuk Mu’awiyah juga melihatnya lalu berpuasa.”
Mendengar hal itu, Ibnu Abbas menanggapi, “Tetapi kami di Madinah melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami tetap berpuasa sampai kami menyempurnakan 30 hari atau sampai kami melihat hilal Syawal.”
Mengapa Bisa Berbeda?
Saat Kuraib bertanya apakah kesaksian dari Syam tidak cukup bagi penduduk Madinah, Ibnu Abbas menjawab dengan tegas: “Tidak! Begitulah Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami.”
Perbedaan ini terjadi karena jarak antara Syam dan Madinah yang mencapai sekitar 1.120 kilometer. Secara geografis, lokasi terbitnya bulan (Mathla’) di kedua wilayah tersebut berbeda. Hal inilah yang menjadi landasan bagi para ulama bahwa perbedaan penentuan awal bulan bisa saja terjadi karena faktor perbedaan letak geografis masing-masing daerah.
Pesan untuk Umat
Adanya berbagai metode penentuan awal bulan kamariah memang terkadang memicu perbedaan waktu lebaran. Namun, sejarah mengajarkan kita untuk saling menghormati ijtihad dan keputusan otoritas setempat dalam menetapkan hari raya.
Yang terpenting, semangat Idul Fitri adalah merayakan kemenangan iman dan memperkuat tali silaturahmi, terlepas dari kapan hari kemenangan itu dimulai.

.png)






