www.domainesia.com

Mitos-mitos Satu Suro yang Hingga Kini Masih Dipercaya

STABAT (Langkatoday) – Ahad 07 Juli 2024 ini, kalender Islam memasuki 1 Muharram sebagai penanda pergantian tahun hijriah. Artinya sudah memasuki 1446 Hijriah. Sementara kalender Jawa menyebutnya Suro atau sura.

Bulan Suro kerap dikaitkan dengan kepercayaan turun temurun. Ada tradisi-tradisi masyarakat Jawa ataupun perintah maupun larangan menyambut Satu Suro yang dipercaya hingga kini.

Apa saja sih mitos-mitos satu suro yang dipercaya masyarakat Jawa?

1. Tidak menggelar pesta pernikahan

Untuk yang pertama dan sering kita dengar saat bulan Suro adalah disarankan untuk tidak menggelar pesta pernikahan.

Ya, memang di bulan ini jarang sekali orang mau menggelar pernikahan. Tentu saja mitos ini sudah lama jadi cerita masyarakat. Jika melakukannya bisa tertimpa kesialan atau musibah.

Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan jika semua hari itu baik.

2. Tak boleh pindah rumah

Satu mitos lain yang sering didengar di bulan Suro adalah larangan untuk pindah rumah. Kenapa gak boleh?

Terutama malam satu suro. Hal itu dianggap bukan hal yang baik. Kembali lagi, kabarnya bisa mendatangkan musibah juga jika melanggarnya.

3. Tapa Bisu atau tak berbicara

Salah satu ritual yang sering dilakukan pada malam 1 Suro adalah tidak boleh berbicara sama sekali atau tapa bisu. Biasanya dilakukan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.

Selain tak boleh bicara, orang tersebut juga tidak boleh makan, minum serta merokok saat melakukan ritual tapa bisu.

4. Arwah leluhur kembali ke rumah

Selain itu mitos lain yang dipercaya saat malam satu suro adalah kembalinya arwah leluhur atau orang ke rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Bahkan kabarnya arwah orang-orang yang menjadi tumbal pesugihan akan dilepaskan.

Tapi tetap saja cerita-cerita tadi hanya mitos dan yang terpenting adalah percaya kepada Allah SWT. Perbanyak saja beribadah di bulan Muharram ini.

------
Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram

Bacaan Lainnya: