Medan, Langkatoday.com – Harga emas mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat (31/1) setelah mencatat reli signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini terjadi seiring kondisi pasar emas yang mulai memasuki fase jenuh beli (overbought).
Berdasarkan data Logam Mulia Antam, harga emas Antam hari ini tercatat sebesar Rp 2.860.000 per gram, turun Rp 260.000 dibandingkan harga sehari sebelumnya yang berada di level Rp 3.120.000 per gram.
Penurunan harga terlihat sejak pagi hari. Pada pembukaan pukul 06.00 WIB, emas Antam masih bertahan di level Rp 3.120.000 per gram, sebelum akhirnya melemah dan turun signifikan hingga pukul 08.30 WIB.
Harga emas dunia ikut terkoreksi
Koreksi harga juga terjadi di pasar global. Harga emas spot dunia tercatat masih menguat 75,13% secara tahunan ke level US$ 4.894,23 per ons troi. Namun, secara harian harga emas justru mengalami pelemahan 8,98%.
Sebelumnya, pada Kamis (29/1) pagi, harga emas dunia sempat mencetak rekor dengan pergerakan mendekati US$ 5.600 per ons troi, sebelum akhirnya ditutup di level US$ 5.375,24 per ons troi. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas terlihat sangat volatil akibat tekanan aksi ambil untung setelah reli panjang.
Emas dinilai mulai jenuh beli
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai penurunan harga emas saat ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang telah memasuki area jenuh beli.
“Harga emas ini sudah berada di level jenuh overbought. Namun di sisi lain, bank sentral masih terus melakukan pembelian,” ujar Yanuar kepada Kontan, Jumat (30/1).
Ia menjelaskan, dari sisi pasar derivatif mulai muncul sinyal short pada kontrak berjangka emas, terutama dari ETF berbasis emas yang dikelola oleh hedge fund. Sinyal tersebut mengindikasikan adanya aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang agresif.
Namun, kondisi tersebut berlawanan dengan langkah bank sentral global yang justru terus meningkatkan cadangan emas sebagai strategi lindung nilai di tengah meningkatnya risiko gagal bayar surat utang global.
Short covering picu volatilitas
Yanuar juga menyoroti dinamika di pasar berjangka emas yang turut mempercepat pergerakan harga dalam waktu singkat. Menurutnya, posisi jual kosong (short) di bursa berjangka merespons lonjakan permintaan beli, sementara pasokan emas fisik relatif terbatas.
“Kenaikan tajam bulan ini dipicu oleh penutupan posisi short karena tidak tersedianya emas fisik. Hal ini mendorong kenaikan harga emas future akibat penutupan short dengan pembelian di harga marjin,” jelasnya.
Aksi short covering yang masif tersebut membuat harga emas di pasar berjangka sempat melonjak cepat, sebelum akhirnya mengalami koreksi seperti yang terlihat pada perdagangan hari ini.
Meski demikian, Yanuar menilai prospek emas masih cukup solid dalam jangka menengah.
“Volatilitas bisa meningkat akibat posisi ETF. Namun secara struktural, harga emas masih akan bertahan tinggi karena bank sentral tetap menjadi penopang utama permintaan,” pungkasnya.
.png)






