Kabut Asap Makin Parah, Malaysia Tempuh Jalur Diplomatik ke Indonesia

Jakarta, Langkatoday.com – Pemerintah Malaysia mulai mengambil langkah diplomatik menyikapi memburuknya kabut asap, terutama di wilayah Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, Indonesia.

Kabut asap dalam beberapa hari terakhir dilaporkan menyelimuti sejumlah kawasan di Sarawak.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Pemerintah Malaysia menyebut asap yang melintasi wilayah perbatasan tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan pemerintah Malaysia memandang serius persoalan kabut asap lintas batas tersebut.

Malaysia bahkan berencana menyampaikan kekhawatirannya melalui jalur diplomatik kepada pemerintah Indonesia.

Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, disebut akan mengirim surat kepada Menteri Lingkungan Hidup RI. Persoalan tersebut juga akan dibawa ke tingkat Sekretariat ASEAN.

“Malaysia akan menggunakan mekanisme ASEAN untuk memastikan koordinasi bersama antara Malaysia dan Indonesia dalam menangani akar penyebab kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap polusi udara lintas batas,” kata Mohamad Hasan, dikutip dari media Malaysia.

Baca Juga:  PT Socfindo Tegaskan Patuh Aturan dan Jalankan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Menurutnya, surat tersebut akan disampaikan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN dalam waktu dekat agar persoalan kabut asap lintas batas dapat segera ditindaklanjuti melalui mekanisme regional.

API Serian Capai 242

Kekhawatiran Malaysia semakin meningkat setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak mengalami penurunan.

Data Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) menunjukkan angka Indeks Pencemar Udara (API) di stasiun pemantau kawasan Serian mencapai 242 pada pukul 06.00 waktu setempat.

Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Serian merupakan salah satu wilayah Sarawak yang berada relatif dekat dengan kawasan perbatasan Malaysia-Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan kabut asap dan partikulat halus dapat berdampak lebih serius terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Persoalan kabut asap lintas batas ini pun kembali menunjukkan pentingnya kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Ribuan Hotspot Terdeteksi di Kalimantan Barat

Di sisi Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi ribuan titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat.

Baca Juga:  Panas! Massa Kepung DPRD Medan, Desak Pabrik Kecap Ditutup Gara-Gara Limbah

Kasatgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan terdapat 3.759 hotspot yang terdeteksi di wilayah tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan 146 titik masuk kategori tingkat kepercayaan rendah.

Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni mencapai 1.795 titik, termasuk 81 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Hotspot juga terpantau di sejumlah daerah lainnya, antara lain Sanggau sebanyak 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.

BPBD Kalbar menyebut penanganan karhutla terus diperkuat melalui operasi pemadaman darat dan udara.

Jarak Pandang Turun di Bawah 1 Kilometer

Dampak karhutla juga mulai terasa terhadap aktivitas masyarakat.

Kabut asap tebal dilaporkan menyebabkan jarak pandang di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya turun hingga di bawah satu kilometer pada pagi hari.

Baca Juga:  Kejati Sumut Beri Penyuluhan Hukum di SMKN 1 Lubuk Pakam, Ajak Siswa Cegah Bullying dan Jauhi Narkoba

“Jarak pandang sempat turun di bawah satu kilometer akibat kabut asap tebal di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya pada pagi hari,” ujar Daniel.

Tidak hanya jarak pandang, kualitas udara di sejumlah wilayah juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Di Jongkat, Kabupaten Mempawah, konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 148,8 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.

Sementara di Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 309,1 mikrogram per meter kubik.

Adapun di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, konsentrasi PM2.5 mencapai 254,1 mikrogram per meter kubik.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia maupun Malaysia. Di satu sisi, Indonesia menghadapi persoalan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di sisi lain, asap yang terbawa angin berpotensi menyeberangi batas negara dan memengaruhi kualitas udara di wilayah Malaysia.

Dengan kondisi yang semakin memburuk, jalur diplomatik dan mekanisme ASEAN kini menjadi salah satu pilihan Malaysia untuk mendorong penanganan kabut asap lintas batas secara bersama-sama.

Andika
Fadli
Andika

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Tutup
HUT RI