Tak Ada Kursi VIP, Pejabat dan Warga Berdiri Bersama di Upacara HUT ke-81 RI Kulon Progo

Kulon Progo, Langkatoday.com – Peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Alun-alun Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (17/8), berlangsung dengan konsep berbeda.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sengaja meniadakan tenda maupun kursi khusus bagi pejabat dan tamu VIP. Para pejabat, anggota dewan, serta tamu undangan berdiri bersama peserta upacara lainnya.

Konsep tersebut diusung dengan semangat “satu rasa, satu jiwa”, sebagai simbol tidak adanya sekat antara pemerintah dan masyarakat dalam memperingati hari kemerdekaan.

Pantauan di lokasi, upacara dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dan berlangsung hampir dua jam. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, TNI-Polri, aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat umum.

Suasana pagi di Alun-alun Wates relatif sejuk dengan kabut yang masih menyelimuti kawasan tersebut. Namun, sebagian peserta, terutama pelajar yang menghadap ke arah timur, tetap harus merasakan paparan sinar matahari.

Tidak terlihat tenda khusus pejabat maupun deretan kursi bersarung putih yang biasanya disiapkan untuk tamu VIP.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan juga ikut berdiri sepanjang upacara bersama peserta lainnya.

Baca Juga:  Menjelang HUT RI, Pengibaran Bendera One Piece Picu Reaksi Pemerintah: Dinilai Cederai Martabat Merah Putih

“Saya sendiri juga merasakan berat,” ujar Agung seusai upacara.

Menurutnya, peniadaan fasilitas khusus pejabat merupakan konsep yang sengaja diterapkan untuk menciptakan kesetaraan dalam pelaksanaan upacara kemerdekaan.

Agung mengatakan, selama ini terdapat perbedaan kondisi antara peserta upacara dengan tamu VIP. Para pejabat dan tamu undangan biasanya berada di tempat yang lebih teduh dan nyaman, sementara peserta, khususnya pelajar, harus berdiri di bawah terik matahari.

“Selama ini peserta upacara selalu dibedakan. Tamu undangan VIP ada di tempat yang lebih sejuk, lebih nyaman, sementara peserta yang lain, apalagi anak sekolah, berpanas-panasan,” katanya.

Karena itu, Pemkab Kulon Progo ingin menghilangkan sekat tersebut melalui konsep “satu rasa, satu jiwa.”

“Motivasinya adalah agar kita semua merasakan satu hal yang sama, jiwa kita tersambung dalam sebuah kebersamaan, dan tidak ada sekat antara satu peserta dengan seluruh peserta upacara yang lainnya,” ujar Agung.

Pejabat Ikut Rasakan Panas

Bagi Agung, konsep tersebut bukan sekadar simbolis. Ia menilai pejabat juga perlu merasakan secara langsung kondisi yang dialami masyarakat.

Baca Juga:  Jeritan Istri Tersangka Korupsi Dana BOS Sunggal: Menangis di Kejati Sumut, Pertanyakan Prosedur Penahanan Suami

Terlebih, sebagian peserta merupakan anak-anak sekolah yang harus berdiri dalam waktu cukup lama di bawah sinar matahari.

“Apalagi kalau yang anak-anak menghadap ke timur, kena cahaya matahari. Kita bisa rasakan, itu tidak enak rasanya,” tuturnya.

Agung mengatakan, peringatan kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

“Harapan kita semua, kemerdekaan yang telah kita dapatkan ini dapat kita isi dengan langkah pembangunan yang lebih nyata untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kursi Tetap Disediakan untuk Veteran dan Ibu-Ibu

Meski sebagian besar peserta diwajibkan berdiri, panitia tetap menyediakan kursi bagi kelompok yang dianggap membutuhkan, terutama para veteran dan ibu-ibu.

Menurut Agung, penyediaan kursi tersebut merupakan bentuk penghormatan dan perhatian terhadap kondisi peserta.

“Kami tetap sediakan untuk mereka. Kalau veteran kita sama-sama tahu, itu karena kondisi,” ujarnya.

Menariknya, sejumlah ibu-ibu yang telah disediakan tempat duduk justru memilih tetap berdiri mengikuti seluruh rangkaian upacara.

Baca Juga:  Hari Pertama War Ticket HUT RI Tembus 128 Ribu Pendaftar

Bagi Agung, hal tersebut semakin menunjukkan semangat kebersamaan yang ingin dibangun dalam peringatan HUT ke-81 RI.

“Alhamdulillah kita semua merasakan hal yang sama untuk bersama. Bukan karena saya, tapi kita satu rasa, satu jiwa,” katanya.

Ia bahkan berencana mengembangkan konsep kebersamaan serupa dalam berbagai kegiatan pemerintah daerah ke depan.

Upacara Berlangsung Khidmat

Meski tanpa tenda VIP dan kursi khusus bagi sebagian besar tamu undangan, seluruh rangkaian upacara berlangsung tertib dan khidmat.

Pembacaan teks Proklamasi, pengibaran Sang Merah Putih, pembacaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, hingga menyanyikan lagu-lagu kebangsaan berjalan lancar.

Barisan TNI dan Polri tampak berdampingan dengan ASN, pelajar, serta masyarakat yang memenuhi kawasan Alun-alun Wates.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, suasana tersebut menjadi pesan tersendiri dalam peringatan kemerdekaan tahun ini: kemerdekaan tidak mengenal sekat antara pejabat dan rakyat.

Semangat “satu rasa, satu jiwa” diharapkan tidak berhenti pada seremoni 17 Agustus, tetapi diterjemahkan dalam kebijakan dan pembangunan yang semakin dekat dengan masyarakat.

Andika
Fadli
Andika

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Tutup
HUT RI