Merdeka yang Tertunda: Refleksi Kritis atas Makna Kemerdekaan Indonesia
Surabaya, Langkatoday.com – Tidak semua orang menganggap nilai kehidupan sebagai suatu yang berharga, karena setiap insan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap segala sesuatu.
Penilaian atas tingginya nilai-nilai kehidupan diperoleh ketika seseorang memiliki rasa empati tehadap sesama, atau memiliki rasa timbal balik, seperti ungkapan hargailah orang lain, sebagaimana kamu menghargai dirimu sendiri, cintailah orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.
Tetapi kemerdekaan bukan tanggung jawab warga negaranya, melainkan negara yang harus memikirkan bagaimana rakyatnya merdeka seumur hidup.
Kemerdekaan suatu negara dari negara penjajah adalah satu keberhasilan, namun ketika negara yang sudah merdeka dan mampu memakmurkan warga negaranya itu adalah sembilan puluh sembilan keberhasilan.
Negara dianggap ada ketika ada rakyatnya, tapi jika negara ada, namun rakyatnya merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan primernya serta memikul beban pajak ke negara nya, maka pemimpin negara tersebut, berhak untuk digagalkan kepemimpinannya.
Jika demikian keadaannya, bisa dikatakan jikalau melawan penjajah jauh lebih mudah dibanding dipimpin dari bangsa sendiri yang pola pemerintahannya tidak jauh berbeda dari model penjajahan kolonial pada masa lalu.
Negaranya saja yang merdeka, namun rakyatnya belum tentu. Faktanya di negara ini, rakyat miskin semakin miskin, dan kaya semakin kaya.
Makna merdeka menurut KBBI adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, dan berdiri sendiri. Tentu antara pengertian diatas kertas dengan fakta yang bermunculan secara kontekstual, jauh dari makna sebenarnya.
Kemerdekaan Indonesia tidak boleh hanya dirasakan oleh rakyat yang berada di pulau Jawa, seharusnya kemerdekaan itu juga harus hadir di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dari awal kemerdekaan hingga sekarang pembangunan itu kebanyakan selalu berpusat di pulau Jawa.
Salah satu contohnya pembuatan kereta cepat Jakarta-Bandung, kenapa pembangunan ini dibuat ketika kereta api diseluruh Indonesia belum merata dibangun? tentu kebijakan tersebut memiliki dua sudut pandang yang berbeda.
Bagi masyarakat yang dimarginalkan, tentu itu adalah keadilan pembangunan yang dinegasikan, sedangkan bagi masyarakat yang berada di kedua kota tersebut alih-alih adanya ketimpangan pembangunan, mereka justru melihatnya sebagai kepraktisan dalam mobilisasi antar kota. Yang satu diuntungkan, lainnya diabaikan.
Setiap tahun masyarakat Indonesia memeriahkan kemerdekaannya setiap tanggal 17 Agustus, tetapi jika melihat masyarakat menengah kebawah, apakah pantas kita merayakannya? dimana empati atau kepedulian kita terhadap sesama? dimana keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat yang terus dimarginalkan setiap tahunnya?
Apakah masyarakat menengah kebawah itu terus dipelihara untuk pemungutan suara setiap lima tahun sekali? atau memang benar adanya program MBG sebagai alat pemerintah untuk memaksa masyarakat berkata terimakasih kepada Presiden?
Bukankah dana MBG berasal dari pajak rakyat? jika demikian, kenapa harus ada kata gratis?.
Sayang sekali, punya pemimpin yang tidak berintegritas.
Lebih lanjut, apakah perayaan kemerdekaan hanya sebagai ritual yang turun temurun? tanpa mempertanyakan apa makna substansial dari sebuah kemerdekaan?, tetapi apakah salah orang yang merayakannya? tentu tidak sepenuhnya salah, sebab pemaknaan “merdeka” bagi sebagian orang dimaknai atas merdekanya negara dari penjajahan.
Mungkin sesimpel itu mereka memaknai kemerdekaan, selama negara kita tidak dijajah secara inklusif oleh negara lain, negara kita tentu masih aman-aman aja.
Barangkali perayaan kemerdekaan dibuat sebagai aktivitas yang mampu melepaskan segala kepenatan dalam menjalani serba-serbi kehidupan. Namun bagi sebagian yang lain, ada yang tetap mengkritisi pola pemerintahan yang secara implisit menjajah rakyatnya sendiri, sehingga makna kemerdekaan bagi mereka, selalu dipertanyakan setiap tahunnya.
Merdeka, seharusnya tidak cukup untuk dirayakan sekali setiap tahunnya, namun setiap hari kita wajib merayakan kemerdekaan kita. Karena jika merayakan kemerdekaan hanya sekali dalam setahun, tidak layak dinamakan dengan hari kemerdekaan, melainkan hari jadi Negara Indonesia, mungkin jauh lebih tepat.
Bagaimana kita menyuarakan kata merdeka, kalau rakyatnya dibebani oleh pajak yang berlipat-lipat?. Seakan-akan pemerintah dan jajaran pejabatnya secara konotatif, memeras keringat rakyatnya sendiri untuk menghidupi kebutuhan kehidupan mereka.
Rakyat bersusah payah untuk memenuhi segala kebutuhannya secara mandiri, namun pejabatnya, hanya mampu membuat kebijakan yang terstruktur, namun barangkali peraturannya ada yang tidak memihak ke rakyat kecil.
Indonesia adalah negara yang besar, tetapi jaringan pertemanannya jauh lebih banyak.









