DomaiNesia
BeritaInternasional

Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru di Tengah Perang, AS Beri Reaksi Keras

Tim Langkatoday
1443
×

Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru di Tengah Perang, AS Beri Reaksi Keras

Sebarkan artikel ini
channel whastapp langkatoday

Jakarta, Langkatoday.com – Republik Islam Iran resmi memasuki babak baru kepemimpinan di tengah situasi perang yang kian membara.

Majelis Ahli Iran mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei (56) sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) baru, menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara baru-baru ini.

Iklan
Promo Website Ramadhan
Iklan

Penunjukan putra mendiang Khamenei ini menjadi sinyal kuat bahwa faksi garis keras dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap memegang kendali penuh atas arah kebijakan Iran di tengah konfrontasi terbuka melawan Amerika Serikat dan Israel.

Mandat “Dibenci Musuh”

Anggota Majelis Ahli, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, menyatakan bahwa pemilihan Mojtaba didasarkan pada wasiat dan panduan mendiang Ali Khamenei. Kriteria utamanya adalah sosok yang tidak akan disenangi oleh musuh-musuh Iran.

“Kandidat dipilih berdasarkan arahan bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya ‘dibenci oleh musuh’. Bahkan ‘Setan Besar’ [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya sebagai pilihan yang tidak dapat diterima,” ujar Heidari Alekasir dalam pernyataan resminya, Ahad (8/3).

Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya secara terbuka menolak kemungkinan Mojtaba naik takhta.

Sosok “Penjaga Gerbang” yang Berpengaruh

Meski selama ini dikenal sebagai tokoh di balik layar tanpa jabatan resmi di pemerintahan, Mojtaba memiliki pengaruh yang sangat luas. Ia dikenal sebagai:

  • Penghubung Keamanan: Memiliki kedekatan luar biasa dengan jajaran petinggi IRGC dan milisi Basij.
  • Penentang Reformasi: Konsisten menolak jalur diplomasi dengan Barat, terutama terkait pembatasan program nuklir.
  • Sayyed: Mengenakan sorban hitam yang menandakan garis keturunan Nabi Muhammad, memberikan legitimasi religius tradisional di kalangan pendukungnya.

Tantangan Domestik dan Isu Dinasti

Penunjukan Mojtaba bukannya tanpa kontroversi. Gelar keagamaannya, Hojjatoleslam, berada satu tingkat di bawah Ayatollah, yang secara tradisional menjadi syarat untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi.

Selain itu, muncul kritik mengenai potensi “politik dinasti” di Iran. Banyak pihak mengingatkan bahwa revolusi 1979 dilakukan justru untuk menggulingkan sistem monarki. Namun, tewasnya kandidat potensial lain seperti Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter tahun 2024 lalu seolah memuluskan jalan Mojtaba menuju puncak kekuasaan.

Situasi Personal di Tengah Konflik

Transisi kekuasaan ini terjadi di saat Mojtaba juga tengah berduka secara personal. Istrinya, yang merupakan putri dari mantan ketua parlemen Gholamali Haddadadel, dilaporkan turut tewas dalam serangan udara pada Sabtu lalu.

Dengan naik takhtanya Mojtaba, dunia kini memantau ketat bagaimana Teheran akan merespons serangan-serangan udara AS dan Israel, serta apakah program nuklir Iran akan dipacu lebih agresif di bawah kepemimpinannya yang dikenal radikal.