Jakarta, Langkatoday.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan mengambil alih pemerintahan Venezuela setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat di Caracas. Trump juga secara terbuka menyebut AS akan menguasai infrastruktur dan kilang minyak Venezuela.
Sebuah pesawat yang membawa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, tiba di New York beberapa jam setelah serangan militer AS yang terjadi pada Sabtu dini hari. Trump menyebut operasi tersebut sebagai “serangan yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia Kedua”.
Berbicara dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan Amerika Serikat akan mengendalikan Venezuela hingga proses transisi kekuasaan berjalan tertib. Namun ia tidak merinci bagaimana mekanisme pemerintahan sementara itu akan dijalankan.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai transisi yang aman, tepat, dan bijaksana bisa dilakukan,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa AS tidak ingin Venezuela jatuh ke tangan pihak lain yang tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya.
Maduro ditangkap dalam penggerebekan di atau dekat salah satu lokasi persembunyiannya di Caracas. Setelah diterbangkan ke AS dengan pesawat Boeing 757, ia mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, New York, sebelum dibawa ke Metropolitan Detention Center. Pejabat AS menyebut Maduro dijadwalkan menjalani sidang pengadilan federal pada Senin malam.
Langkah AS tersebut menuai kecaman keras dari Partai Demokrat di Kongres serta sejumlah pemimpin dunia. Mereka menilai intervensi ini sebagai bentuk imperialisme paling berbahaya sejak invasi AS ke Irak pada 2003.
Trump, yang sebelumnya berkampanye untuk mengakhiri keterlibatan militer AS di luar negeri, justru menegaskan Amerika akan mengambil alih pengelolaan Venezuela, termasuk sektor minyaknya.
“Kami akan membawa masuk perusahaan-perusahaan minyak terbesar Amerika, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” kata Trump. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan jika diperlukan.
Meski demikian, belum jelas sejauh mana kendali AS di lapangan. Operasi militer dilaporkan menyebabkan pemadaman listrik di sebagian Caracas, namun pemerintahan Maduro disebut masih memiliki kendali atas sejumlah wilayah.
Trump menyebut pemerintahan sementara Venezuela akan dijalankan “bersama sebuah kelompok” dan menyebut sejumlah pejabat senior AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan ‘Razin’ Caine.
Ia juga tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan AS ke Venezuela.
“Kami akan memastikan negara ini dijalankan dengan baik. Kami tidak melakukan ini dengan sia-sia,” ujarnya.
Trump mengklaim pendudukan tersebut “tidak akan merugikan AS sepeser pun” karena akan dibiayai dari pendapatan minyak Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel.
Namun, akibat sanksi AS, ekspor minyak Venezuela pada 2023 hanya mencapai USD 4,05 miliar, jauh tertinggal dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi dan Amerika Serikat sendiri.
Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC dan telah menasionalisasi sektor minyak sejak 1976 melalui perusahaan negara PDVSA. Kebijakan nasionalisasi diperluas oleh mendiang Presiden Hugo Chávez pada 2007, yang menggusur sejumlah raksasa minyak AS dan memicu sengketa hukum internasional.
Maduro sendiri telah didakwa di pengadilan federal AS sejak 2020 atas tuduhan terorisme narkotika, yang selalu ia bantah.
Serangan militer AS dilaporkan melibatkan lebih dari 150 pesawat dan pasukan operasi khusus, dengan pertempuran sengit di kompleks Maduro sebelum ia ditangkap saat mencoba mencapai ruang aman. Pemerintah Venezuela menyebut ada korban sipil dan militer, namun tidak merinci jumlahnya.
Reaksi internasional pun terbelah. Rusia, Kuba, dan Iran mengecam keras operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Presiden Argentina Javier Milei justru memuji apa yang ia sebut sebagai “kebebasan baru Venezuela”, sementara Meksiko dan Brasil mengutuk intervensi tersebut.
Di AS, tokoh Demokrat seperti Chuck Schumer dan Bernie Sanders memperingatkan bahwa langkah Trump dapat menyeret Amerika ke konflik panjang dan mengulang sejarah kelam intervensi di Amerika Latin.
.png)






