Sejarah Haji, Perjalanan Menuju Baitullah

Lukisan Masjidil Haram dari masa akhir abad ke-19

JAKARTA (Langkatoday) – Sebelum zaman modern, para peziarah memanfaatkan jalur darat dan laut untuk mencapai Makkah. Pada abad pertengahan, misalnya, jamaah haji yang menempuh rute darat dapat berhimpun pada beberapa kota besar yang ada di negeri-negeri sekitar Jazirah Arab. Unta menjadi alat transportasi utama bagi mereka. Begitu pula keledai atau kadang kala kuda.

KN Chaudhuri dalam tulisannya di The Cambridge Illustrated History of the Islamic World menjelaskan, pada masa itu tempat transit utama karavan jamaah haji dari Afrika Utara ialah Kairo. Sementara itu, mereka yang datang dari kawasan Balkan, Anatolia (Turki), dan Syam akan berhimpun di Damaskus. Adapun rombongan dari arah Transoksania (Asia Tengah), Afghanistan, dan Persia berkumpul terlebih dahulu di Baghdad.

Baca Juga:  Kata-Kata Marhaban Ya Ramadhan 2025: Ucapan Menyambut Bulan Suci

Sebagai ibu kota kekhalifahan, Baghdad memiliki infrastruktur yang relatif lebih bagus. Khalifah ketiga Abbasiyah, al-Mahdi mulai membangun jalan penghubung antara Irak dan Hijaz. Proyek itu diteruskan anak-anaknya dan akhirnya tuntas pada masa Harun al-Rasyid. Jalan sepanjang 1.400 kilometer (km) itu membelah Gurun Nafud hingga Madinah dan Makkah. Sang sultan menamakannya Jalan Zubaidah, demi mengenang istrinya, Zubaidah binti Ja’far. Tiap 20 km atau sejarak satu hari perjalanan, terdapat pos pemberhentian. Karavan haji dapat memperoleh air minum, makanan, atau sekadar tempat bernaung di sana.

Baca Juga:  Rupiah Pernah Menguat Sampai Rp8.000 pada Era Presiden Habibie

Sesudah Baghdad jatuh ke tangan Mongol pada 1258, Kairo dan Damaskus menjadi tempat persinggahan utama bagi jamaah haji yang melalui jalur darat. Yang pertama tetap menjadi basis transit mereka yang berarak dari Afrika Utara dan Afrika Barat. Adapun kota yang kedua mulai ketambahan karavan-karavan yang sebelumnya singgah di Baghdad.

Untuk sampai di Baitullah, gelombang jamaah dari Damaskus akan melalui beberapa kota di sepanjang perjalanan, seperti al-Karak, Ma’an, Tabuk, Hijr atau Mada’in Shalih, al-Ula, dan akhirnya Madinah dan Makkah. Sejak zaman Umayyah, tiap menjelang musim haji di Kota Ma’an (kini bagian dari Yordania) bermunculan pasar-pasar dadakan. Masyarakat setempat memanfaatkan kedatangan rombongan haji untuk menggerakkan ekonomi.

Baca Juga:  Tidak Sholat Selama 10 Tahun, Bagaimana Menggantinya? Begini Petuah Gus Baha

Arus jamaah dari Kairo biasanya singgah di sana selama empat hari. Kemudian, mereka bertolak ke arah Ajrud, lalu Suez. Sesudah itu, mereka akan melintasi Gurun Sinai hingga tiba di Aqaba. Sejak dari sana, mereka akan menyusuri pesisir Laut Merah, untuk sampai di Madinah dan akhirnya Makkah.

Muslimin dari pesisir Anak Benua India dan Asia Tenggara umumnya menggunakan jalur laut. Begitu pula dengan jamaah dari Afrika Timur. Mereka mengikuti rute yang biasa dilalui kapal-kapal niaga di Samudra Hindia hingga Laut Arab. (rel/rol)

www.domainesia.com
Tutup
www.domainesia.com