Stabat, Langkatoday.com – Data dalam publikasi Kabupaten Langkat Dalam Angka 2026 kembali menempatkan Kabupaten Langkat dalam posisi yang kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera Utara.
Dari sisi kemiskinan, Langkat masih berada di kelompok atas. Pada 2025, jumlah penduduk miskin di Langkat tercatat sebesar 90,28 ribu jiwa, turun dari 106,59 ribu jiwa pada 2021.

Sekilas terlihat membaik, namun jika dibandingkan dengan daerah lain, angka ini masih tergolong tinggi. Sebagai perbandingan:
- Kabupaten Deli Serdang: 77,70 ribu jiwa
- Kabupaten Serdang Bedagai: 38,14 ribu jiwa.
- Kota Binjai: hanya 13,87 ribu jiwa
- Kota Sibolga bahkan di bawah 10 ribu jiwa
Ironisnya, Langkat masih jauh tertinggal dari daerah dengan karakteristik ekonomi yang relatif serupa. Bahkan, selisih dengan Deli Serdang (yang notabene daerah penyangga kota besar) masih mencapai lebih dari 12 ribu jiwa.
Secara posisi, Langkat termasuk dalam 10 besar daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Sumatera Utara. Ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.

Tak hanya itu, dari sisi pertumbuhan ekonomi (PDRB), kinerja Langkat juga belum menggembirakan. Dalam periode 2020–2025, pertumbuhan ekonomi Langkat tercatat hanya 1,19%, di bawah rata-rata Sumatera Utara yang mencapai 1,37%.
Jika dibandingkan:
- Tapanuli Tengah: 2,09%
- Padang Lawas: 1,92%
- Dairi: 1,82%
Langkat justru tertinggal dari banyak kabupaten lain yang secara sumber daya tidak jauh berbeda.
Artinya jelas: pertumbuhan ekonomi Langkat tidak cukup kuat untuk mendorong penurunan kemiskinan secara signifikan.
Pertumbuhan Lambat, Dampak ke Kemiskinan Terasa Nyata
Korelasi antara dua data ini tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 1 persen membuat daya dorong terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi terbatas.
Meski angka kemiskinan menurun dalam lima tahun terakhir, laju penurunannya relatif lambat dibandingkan daerah lain yang mampu menekan angka kemiskinan lebih agresif.
Dengan kata lain:
- Langkat berhasil menurunkan kemiskinan, tapi kalah cepat dari daerah lain
- Ekonomi tumbuh, tapi tidak cukup kuat untuk mengejar ketertinggalan
Dengan potensi besar di sektor pertanian, pariwisata, dan sumber daya alam, seharusnya Langkat mampu tampil lebih kompetitif.
Namun data BPS justru menunjukkan:
- Kemiskinan masih tinggi
- Pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata provinsi
- Posisi daerah stagnan di papan tengah
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tajam: ke mana arah kebijakan pembangunan Pemkab Langkat selama ini?
Tanpa strategi yang lebih agresif (baik dalam menarik investasi, memperkuat sektor unggulan, maupun meningkatkan kualitas SDM) Langkat berisiko terus tertinggal dari daerah lain di Sumatera Utara.
Publikasi BPS ini bukan sekadar angka, melainkan peringatan keras: Langkat punya potensi, tetapi belum dikelola menjadi kekuatan.

.png)





