4 Hari Tanjung Pura Tenggelam, Bantuan Tak Menyentuh Warga: Penjarahan Jadi Sinyal Peringatan

- Pewarta

Senin, 1 Desember 2025 - 12:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Traktir kopi buat penulis biar semangat
+ Traktir Kopi

Foto: Sekitar RSUD Tanjung Pura

Foto: Sekitar RSUD Tanjung Pura

STABAT, LANGKATODAY – Empat hari sudah Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, terendam banjir. Namun, hingga Ahad (30/11), bantuan pemerintah belum benar-benar berpijak di tanah yang kini berubah menjadi lautan keruh. Di balik genangan itu, kelaparan mulai mengetuk pintu rumah warga-perlahan, lalu memaksa.

Ifat (50), warga Jalan Merdeka, duduk memandangi arus deras yang menutup seluruh akses ke permukimannya.

“Belum ada bantuan masuk. Orang takut ke sini karena arusnya deras,” katanya.

Rumah-rumah warga di wilayah itu terkurung air setinggi pinggang hingga dada, membuat lokasi itu menjadi salah satu titik terisolasi di Langkat.

Karena perut tak bisa menunggu, Ifat nekat keluar dari kampungnya. Ia berjalan menembus arus, menyetop kendaraan menuju Stabat demi sekantong bahan pangan.

“Mau bagaimana lagi? Anak-anak harus makan,” ucapnya.

Kondisi Kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang masih dikepung banjir akibat meluapnya Sungai Batang Serangan, Minggu (30/11/2025). KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Penjarahan: Puncak Kekosongan Negara

Minimnya pangan membuat warga mengambil langkah yang mencerminkan situasi paling parah dalam sebuah bencana: penjarahan. Pada Sabtu malam, beberapa minimarket di pusat Tanjung Pura digeruduk warga yang tak lagi mampu menahan lapar.

“Kami terpaksa. Bantuan tak datang-datang,” ujar Baim, yang membawa plastik berisi sosis, air mineral, dan camilan. Ia mengaku tidak ada aparat yang menghentikan aksi itu.

Baca Juga:  Pascabanjir, Warga Tanjung Pura Dikepung Sampah dan Bau Busuk, Kemana Pemkab Langkat?

Rak-rak yang kosong menjadi simbol paling telanjang tentang absennya pemerintah di hari-hari krisis. Bagi sebagian warga, sekantong yogurt lebih berarti daripada janji-janji bantuan yang tak jelas kapan tiba.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Langkatoday (@langkatodaycom)

Warga Bantu Warga

Hingga Ahad malam, bantuan yang benar-benar sampai ke warga masih berasal dari donatur pribadi, kelompok tani, komunitas, hingga aktivis lingkungan. Mereka menyusuri jalur-jalur yang bisa ditembus untuk mengantar mi instan, telur, minyak, makanan siap santap, sampai pakaian bekas.

“Tidak ada posko resmi, tidak ada tenda darurat,” kata Poniren (48), Sekretaris Desa Kwala Serapuh. Ia sudah menghubungi pemerintah daerah, tetapi jawaban yang datang hanyalah janji. Sementara itu, warga menghadapi satu risiko nyata: kelaparan.

Di Desa Pantai Cermin, warga bahkan membangun dapur umum dari sisa beras kilang padi. Sebab menunggu pemerintah, bagi mereka, sama dengan menunggu air surut: tak tahu kapan.

“Mesin” Pemerintah Bergerak di Tempat

Tim gabungan memang telah mengevakuasi 81 warga Pekubuan, Tanjung Pura, pada Ahad. Namun upaya itu belum sebanding dengan skala krisis. Data Basarnas mencatat ratusan warga di tiga provinsi—Sumbar, Sumut, dan Aceh—masih hilang.

Baca Juga:  Dalam Setahun, Hampir Seribu Masjid Paletina Dihancurkan Israel

“Pencarian dilakukan lewat darat, perairan, dan udara,” ujar Kepala Basarnas, Mohammad Syafii dilansir dari media Kompas.

BNPB menyebut fokus pemerintah saat ini adalah membuka akses ke Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

“Di Sumut, 166 orang meninggal, 143 hilang,” kata Kepala BNPB Suharyanto.

Angka-angka itu menggambarkan situasi bencana, namun juga memperlihatkan betapa lambat roda tanggap darurat bekerja.

Warga Terisolasi Menempuh 8 Jam untuk Dapat Beras

Di Tapanuli Tengah, warga desa yang terputus aksesnya memilih berjalan kaki 3–8 jam menuju Adiankoting, Tapanuli Utara, untuk membeli beras. Mereka menuruni bukit, melewati patahan jalan, dan melompati jembatan darurat yang dibuat seadanya.

Di tengah bencana yang menelan korban ratusan jiwa ini, pejalan kaki yang menggendong beras tampak jauh lebih nyata daripada negara yang seharusnya hadir saat masyarakat paling membutuhkan pertolongan.

Follow WhatsApp Channel langkatoday.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?
Kronologi Mobil Goyang Digrebek di Kisaran, Diduga Oknum Polisi vs 2 Wanita
HUT ke-81 PMI Langkat, 1.200 Pelajar PMR Bergerak Bersama
BKM Al-Badar dan YPKD Gelar Pangkas Gratis, Saatnya Masjid Harus Bermanfaat bagi Masyarakat
Dari Anggaran hingga Pengadaan, Tiorita Perkuat Komitmen Tata Kelola Langkat
Viral Tudingan Setoran Sabu, Bripka Abdul Tamba Kini Minta Maaf dan Tarik Pernyataan
Langkat Ingin Naik Kelas, Tiorita Pelajari Tata Kelola Digital Pemkot Bandung
Hana Kuraki, Aktris AV Jepang, Dikabarkan Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 14:16 WIB

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Sabtu, 19 September 2026 - 20:40 WIB

Kronologi Mobil Goyang Digrebek di Kisaran, Diduga Oknum Polisi vs 2 Wanita

Sabtu, 19 September 2026 - 13:08 WIB

BKM Al-Badar dan YPKD Gelar Pangkas Gratis, Saatnya Masjid Harus Bermanfaat bagi Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 - 22:11 WIB

Dari Anggaran hingga Pengadaan, Tiorita Perkuat Komitmen Tata Kelola Langkat

Kamis, 17 September 2026 - 05:55 WIB

Viral Tudingan Setoran Sabu, Bripka Abdul Tamba Kini Minta Maaf dan Tarik Pernyataan

Terbaru