Berkunjung ke Masjid Azizi di Tanjung Pura, Warisan Sejarah Kesultanan Langkat

Langkatoday.com, StabatKabupaten Langkat yang berada di Provinsi Sumatra Utara memiliki cerita historis berkaitan dengan kerajaan bercorak keislaman. Dulu, Langkat memiliki kerajaan Melayu yang tersohor, yaitu Kesultanan Langkat. Tidak dapat dipungkiri bahwa Kesultanan Langkat menjadi salah satu Kesultanan yang kuat di wilayah Sumatra Bagian Timur.

Keadaan sosial dan ekonomi Kesultanan Langkat terbilang maju, sebab kekayaan yang dimilikinya mampu mengembangkan sarana ajaran Islam dan praktik keislaman di masjid-masjid atau tempat lainnya.

Peninggalan Kesultanan Langkat yang hingga saat ini masih bertahan yakni Masjid Azizi yang berada di Tanjung Pura. Masjid ini menjadi bagian dari saksi sejarah betapa hebatnya Kesultanan Langkat pada saat itu.

Baca Juga

Dibangun Tahun 1899

Masjid Azizi yang terletak di tengah kota Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara ini mulai dibangun pada tahun 1899. Pendirian masjid ini atas usul dari Syekh Abdul Waham Rokan, ayah dari Sultan Abdul Aziz. Pembangunan ini rampung ketika Sultan Abdul Aziz memimpin pada tahun 1902.

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, bahwa penamaan ‘Azizi’ mirip dengan nama pendirinya, yaitu Sultan Abdul Aziz. Uniknya, biaya pembangunan masjid ini yang dipastikan tidak sedikit ini ditanggung seluruhnya oleh Sultan Abdul Aziz.

Baca Juga
1 of 166

Sultan Abdul Aziz menolak bantuan sumbangan dari kerajaan-kerajaan lain karena pembangunan masjid ini adalah amanah dari sang ayah.

Arsitek Bangsawan Jerman

Dibangun menggunakan biaya pribadi, Masjid Azizi ini diarsiteki langsung oleh Bangsawan Jerman bernama GD Langereis. Pembangunan masjid juga melibatkan campur tangan warga setempat dan orang-orang etnis Tionghoa.

Proses pembangunan ini tampaknya bersamaan dengan masa-masa kejayaan Kesultanan Langkat. Sebab, letak yang strategis untuk menunjang aktivitas perekonomian kerajaan.

Komoditi terbesar yang ada di Kesultanan Langkat saat itu adalah produksi minyak bumi dan menerima royalti besar dari Royal Dutch.

Mengandalkan aliran sungai sebagai aktivitas perekonomian di Kesultanan Langkat, material untuk pembangunan Masjid Azizi didatangkan langsung dari Penang dan Singapura melalui jalur tersebut.

Arsitektur Nuansa Melayu

Masjid Azizi memiliki gaya arsitektur yang kontras dibandingkan dengan masjid-masjid lain di Indonesia.

Bangunan ini memiliki 22 kubah yang bermacam-macam, mulai dari satu kubah induk, tiga kubah teras, empat kubah sudut, dan 14 kubah piramidal berukuran kecil.

Gaya arsitektur Masjid Azizi ini bernuansa Timur Tengah tetapi tidak menghilangkan corak Melayu yang kental. Warna yang menghiasi masjid tersebut dominan berwarna kuning dan hijau ditambah dengan ornamen-ornamen khas Melayu.

Pada tahun 2010, pemerintah telah menetapkan masjid yang berusia 110 tahun ini sebagai salah satu benda cagar budaya karena memiliki warisan sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.

Saksi Revolusi Langkat

Dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, masjid yang berada di jalur lintas timur yang menghubungkan Provinsi Sumatra Utara dengan Aceh itu ternyata memiliki cerita kelam.

Ketika itu, revolusi sosial di Langkat tahun 1946 sedang membara dan Masjid Azizi menjadi tempat mengungsikan jenazah.

Awalnya kompleks makam ini hanya diperuntukkan bagi Sultan serta kerabatnya, namun banyaknya jenazah pada peristiwa revolusi di Langkat akhirnya turut dimakamkan di kompleks Masjid Azizi.

Salah satu tokoh besar yang dimakamkan di kompleks Masjid Azizi, yaitu Amir Hamzah, seorang pujangga bangsawan Kesultanan Langkat. Ia juga menjadi salah satu korban Revolusi Langkat.

Sumber: merdeka

-----------

Ikuti kabar terkini lainnya di Google News

Postingan Lainnya