Sejumlah Fakta Pembunuhan Sadis Indriana di Banjar

LANGKATODAY.COM – Sejumlah fakta mulai terungkap dalam kasus pembunuhan sadis terhadap Indriana Dwi Eka Saputri (25) yang mayatnya dibuang terbungkus sprei di Kota Banjar.

Korban dibunuh sepasang kekasih yang menyewa algojo dengan imbalan upah puluhan juta rupiah. Kasus pembunuhan sadis itu kini ditangani Polda Jabar. Penyidik juga sudah menahan tiga tersangka, salah satunya eksekutor.

Berikut beberapa fakta pembunuhan Indriana yang dikutip dari laman iNews.id

6 Fakta Pembunuhan Sadis Indriana di Banjar

1. Berawal dari Penemuan Mayat

Jasad Indriana pertama kali ditemukan oleh pesepeda yang mencium bau menyengat di pinggir tebing dekat Tugu Gajah, Jalan Raya Banjar-Cimaragas Ciamis, Kota Banjar, Ahad, 25 Februari 2024.

Setelah dicek, ternyata mayat seorang perempuan terbungkus selimut.

Saksi lantas menghubungi ketua RW dan diteruskan ke polisi. Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jabar Kombes Pol Surawan mengatakan, saat dicek oleh polisi, kondisi mayat terbungkus sprei dan kedua tangan korban terikat.

“Diduga korban meninggal lebih dari 3 hari dan kondisi mayat sudah dalam keadaan membusuk,” kata Surawan.

Hasil olah TKP, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua helai kain sprei dengan motif berbeda, kutang hitam dan satu celana panjang warna putih bergaris hitam.

2. Identitas Korban Terungkap

Setelah autopsi, identitas korban diketahui bernama Indriyana Dewi Eka Saputri warga Cipinang Pulo, Jakarta Timur.

Kemudian, penyidik meminta keterangan dari orang tua korban.

3. Dibunuh 3 Pelaku

Hasil penyelidikan polisi, korban ternyata memiliki pacar berinisial DT. Dari keterangan itu, penyidik menangkap DT dan dua orang lainnya.

“Terhadap tersangka DT dan RZ dilakukan tindakan tegas terukur karena saat penangkapan membahayakan petugas,” kata Suriawan.

4. Kronologi Pembunuhan

⁠Setelah penangkapan, diketahui pembunuhan tersebut dilakukan oleh DT, RZ dan DV. Pembunuhan diawali dengan perencanaan terlebih dahulu sejak 15 Februari 2024.

Pembunuhan berencana dilakukan pada Selasa (20/2/2024) pukul 18.30 WIB oleh RZ sebagai eksekutor di Jalan Bukit Pelangi, Sentul, Kabupaten Bogor.

Tersangka RZ menghabisi Indriana dengan cara menjerat leher korban menggunakan ikat pinggang selama kurang lebih 15 menit hingga meninggal. Kemudian pelaku membawa korban yang telah tewas kembali ke Jakarta.

Esoknya Rabu (21/2/2024, pelaku DV, DT dan RZ membawa mayat korban menuju Pangandaran melalui Tol Cipali Cirebon.

Sesampainya di Kabupaten Kuningan, mobil mengalami kerusakan. Lalu pelaku DT dan DV mengeluarkan mayat korban dari mobil pada Jumat (23/2/2024) pukul 02.00 WIB.

Pelaku mengambil barang-barang berharga milik korban, sedangkan RZ membuang mayat tersebut ke jurang di belakang Tugu Gajah, Dusun Neglasari.

“Setelah itu mereka (tersangka DT, RZ, DV) kembali ke Jakarta,” ucap Kombes Pol Surawan.

5. Dipicu Cinta Segitiga

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Jules Abraham Abast menambahkan, pembunuhan berencana terhadap korban dilatarbelakangi kecemburuan DV terhadap korban.

Kemudian DV meminta DT untuk membunuh korban. Tersangka DV cemburu lantaran pacarnya DT juga menjalin hubungan dengan korban Indriyana.

Direktur Ditreskrimum (Dirreskrimum) Polda Jabar Kombes Pol Surawan mengatakan, pembunuhan terhadap korban lantaran DV cemburu terhadap DT yang menjalin hubungan dengan korban. Sedangkan DT merupakan pacar DV.

“Ini kan karena pacaran aja sih. Si DT punya pacar dua, DV sama korban (Indriyana). DV cemburu. Dia gak mau diduakan,” kata Dirreskrimum) Polda Jabar.

6. Eksekutor Dibayar Rp50 Juta

Kombes Pol Surawan menyatakan, tersangka DV lantas meminta RZ membunuh korban Indriyana. RZ sempat menolak membunuh korban walaupun dijanjikan bayaran Rp50 juta.

“Namun, karena terlilit utang, RZ akhirnya menyetujui permintaan DV,” ujar Kombes Pol Surawan.

Dirreskrimum Polda Jabar menuturkan, RZ bukan preman, residivis, atau pembunuh bayaran. Sehari-hari, MR bekerja freelance.

“Awalnya dia tidak mau diminta membunuh korban. Tapi karena kepepet utang, akhirnya dia mau. RZ membunuh korban di kawasan Jalan Bukit Pelangi Sentul, Bogor,” katanya.

Dari bayaran Rp50 juta yang dijanjikan, tutur Dirreskrimum, RZ baru menerima bayaran Rp23 juta dan satu unit ponsel dari DV.

“RZ baru pertama kali melakukan pembunuhan,” tutur Dirreskrimum.

Informasi dan kerjasama bisa dikirim via e-mail: [email protected]

Bacaan Lainnya: