Bikin PT Murah

Sebar Nyamuk Wolbachia di Bontang, Dinkes Harap Warga Tidak Panik

LANGKATODAY.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Kalimantan Timur buka suara terkait keputusan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebar nyamuk Wolbachia di Bontang. Sebab persoalan tersebut menuai pro serta kontra di Kota Taman.

“Wolbachia ini sudah melalui penelitian di UGM (Universitas Gajah Mada) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Salatiga sejak 2011. Jadi bukan program baru,” ujar Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati pada Rabu (22/11) siang.

Dia mengatakan dari serangkaian penelitian hingga kini, program tersebut sudah berjalan satu dekade lebih. Pernah mendapat uji coba di Yogyakarta dan diklaim mampu menekan kasus sebanyak 77 persen DBD di kota dan di rumah sakit sebanyak 86 persen.

“Artinya, efek samping belum ditemukan dan kami menyambut baik langkah ini. Sebab program Wolbachia ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” terangnya lagi.

Dia berharap warga Bontang tak panik dengan metode ini. Di beberapa negara juga sudah menerapkan dan hasilnya diakui WHO. Langkah diseminasi untuk program ini juga sudah ditunaikan.

Sejatinya, sistem yang dipakai ialah dengan metode pergantian. Nyamuk jantan dan betina Wolbachia dilepaskan ke alam, sehingga menggantikan nyamuk DBD.

“Awalnya, tidak semua warga setuju. Tapi, setelah diedukasi akhirnya mereka paham,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun, ada 4.911 titik penyebaran bibit nyamuk Wolbachia di Bontang. Dimulai dari Kelurahan Bontang Baru, Kelurahan Gunung Elai, Kelurahan Api-Api, Kelurahan Belimbing, Kelurahan Gunung Telihan, dan Kelurahan Kanaan. Sementara tahap kedua pada Desember mendatang.

Kemenkes melaporkan 35.694 kasus DBD terjadi di Indonesia hingga minggu ke-22 pada 2023. Dari jumlah itu, kasus DBD paling banyak terjadi di Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sedangkan, kematian akibat DBD sebanyak 270 kasus sepanjang tahun ini. Kasus kematian akibat DBD paling banyak terjadi di jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, dan Kalimantan Timur.

Menurut Kemenkes, lonjakan kasus DBD ini salah satunya karena fenomena El Nino. Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur itu turut membuat nyamuk Aedes Aegypti menjadi lebih ganas.

Mereduksi kasus tersebut, Kemenkes keluar dengan program nyamuk Wolbachia. Kota Bontang, Kalimantan Timur menjadi salah satu dari lima kota pilihan di Indonesia sebagai pilot project Wolbachia. Empat lainnya ialah Jakarta Barat, Bandung, Semarang dan Kupang.

Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kemenkes Ngabila Salama mengatakan hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Menteri kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan demam berdarah dengue (DBD). (rel/cnn)

Bacaan Lainnya: