Sujud Syukurnya Skuad Maroko, dan Era Kreativitas Dakwah

Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

Langkatoday.com, Stabat – Satu kabar menarik lagi yang membuatku memerhatikan kembali jalannya Piala Dunia 2022. Kemenangan Maroko melawan Belgia ternyata juga masuk dalam kategori “unexpected”, di luar ekspektasi. Pasalnya, dalam pertandingan kali ini Belgia sebenarnya diprediksi memiliki peluang kemenangan sebanyak 50 persen, sementara Maroko —Tim Singa Atlas— diprediksi hanya memiliki 21 persen dan peluang berakhir imbang sebanyak 29 persen.

Itulah yang membuat kemenangan Maroko cukup menyita perhatian dan jadi pembahasan hari-hari ini. Skuad yang berasal dari Afrika Utara ini merayakan selebrasi kemenangannya dengan ramai-ramai bersujud syukur. Awalnya, bagiku bagian ini sudah cukup biasa karena beberapa pemain bola muslim juga melakukannya.

Namun, sepertinya ada energi yang lebih besar kali ini di sujud itu; karena ada salah seorang ulama yang merupakan tokoh penting persatuan ulama muslim internasional, Dr Ali Al Qaradaghi memberikan komentar,

“kami senang dengan kemenangan mereka (timnas Maroko), namun kami lebih senang lagi dengan betapa percaya dirinya mereka dengan iman mereka.”

Read More

Mungkin sebagian kita ada yang berkata, “ah, apa-apaan sih? Sepakbola ya sepakbola, jangan dikaitkan dengan apapun!” Tapi kamu sadar kan kenapa timnas Jerman memberi perhatian khusus untuk menampakkan gestur tutup mulut sebagai bentuk protes karena ban kapten yang mendukung BLGT dilarang? Kenapa coba?

Sadarkah kamu ketika Ban lengan “OneLove” – yang menampilkan garis hati bergaris dalam berbagai warna untuk mendukung komunitas BLGT itu dikenakan oleh kapten dari Inggris, Belanda, Belgia, Denmark, Jerman, Swiss, dan Wales di Piala Dunia? Mengapa mereka seperhatian itu pada aksesoris yang tidak punya pengaruh apa-apa bagi tendangan mereka?

Gestur-gestur seperti itu memang bukan bagian dari sepakbola, namun ia mencerminkan sikap dan keberpihakan mereka pada sebuah nilai. Dan kau pasti paham, Piala Dunia merupakan satu ajang paling bergengsi untuk mengkampanyekan sebuah ajakan. Maka sekecil apapun gestur itu, dunia akan membahasnya. Media akan berusaha menerjemahkannya.

Barangkali itulah yang membuat tokoh dari persatuan Ulama Muslim Internasional ini memberi sambutan hangat pada sujud syukur berjamaah skuad Maroko di pertandingan lalu. Dr Ali Al Qaradaghi pun menulis di Twitternya,

“hal (sujud syukur) indah itulah yang mendeklarasikan syukur pada Allah, sekaligus menjadi wasilah dakwah. Orang-orang akan mencari tahu tentang sujud itu, dan mereka (para pemain) pasti mendapatkan pahala jika ada yang mendapatkan hidayah karena itu.”

Dakwah perlu masuk dari mana saja, selama ia adalah jalan yang halal dan tidak mendobrak apa yang Allah telah larang. Kreativitas dakwah itulah yang sekarang bisa kita pelajari dari Qatar sebagai tuan rumah, suporter muslimin yang memadati mushala di halaman stadion, hingga gestur pemain yang bersujud ketika mencetak gol. Iya, ajang ini memang banyak pula mudharatnya; namun kini kita tahu bahwa mereka tak lagi bisa mendikte semena-mena.

Aku jadi ingat apa yang dulu pernah disampaikan oleh Dr Ali Al Audah, seorang pakar sejarah Islam.

“Negeri yang dibebaskan Umat Islam (dalam sejarahnya) terbentang dari batas Tiongkok di timur hingga Andalusia di barat, dan Kaum Muslimin tidak pernah memaksa seorangpun untuk memeluk Islam.”

Namun, bagaimana bisa orang-orang ramai memeluk Islam padahal tidak dipaksa?

Ini yang dijelaskan oleh pakar sejarah kita,

“yang terjadi adalah; ketika masyarakat negeri-negeri yang dibebaskan itu melihat sendiri bagaimana Kaum Muslimin mempraktekkan agama mereka, orang-orang itu memutuskan untuk memeluk Islam karena pilihan mereka sendiri. Coba anda baca sendiri detailnya yang ditulis Thomas Arnold dalam buku ‘The Preaching of Islam.’”

—Prof. Dr. Ali Al Audah Al Ghamidi
Pakar Sejarah Islam, Perang Salib, dan Perang Pemikiran

-----------

Ikuti kabar terkini lainnya di Google News

Butuh Website? Hubungi Dapur Website Indonesia

Related posts