Dejavu Kisah Pembebasan Andalusia di Laga Maroko-Spanyol

Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin

LANGKATODAY.COMIncredible! masyaAllah! Aku baru tahu ternyata sepakbola yang kelihatannya hanya olahraga, namun ia memiliki nilai emosional yang mempengaruhi jalannya laga. Bukan hanya tentang bola ditendang dan lapangan hijau saja, tapi juga tentang prinsip, nilai pandangan hidup bahkan perjuangan untuk memerdekakan Palestina. Maroko menjadi kisah penting yang kita akan angkat kali ini.

Pertandingan Maroko vs Spanyol banyak sekali di-request bahasannya oleh followers Gen Saladin. Teman-teman pembaca sejarah Islam pasti tahu betul ada hawa-hawa “dejavu” dalam pertemuan dua negara ini. Sebab dua negeri ini menjadi latar peradaban Andalusia. Maroko adalah saksi bisu berangkatnya gelombang pasukan muslimin pertama-tama yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad. Sementara Spanyol, adalah tujuan mereka.

Kemenangan Maroko belum lama ini akhirnya menjadi cukup emosional dan ikonik, sampai-sampai ada netizen yang nyeletuk di akun media sosialnya “Morocco 2nd greatest win against Spain after Tariq Bin Ziyad.” Dalam sejarahnya, Maroko dan Spanyol punya ikatan sejarah yang sangat berhubungan. Bisa dibilang, kalau bicara tentang sejarah Islam di benua Eropa, maka dua negara inilah yang jadi kata kuncinya.

Pembebas Andalusia pertama bukan bangsa Arab, melainkan bangsa Berber yang juga dikenal denga nama ‘Amazigh.’ Sekitar 80% penduduk Maroko berasal dari etnis ini, bahkan beberapa riwayat mengatakan bahwa Thariq bin Ziyad pun seorang Berber. Saat pembebasan Andalusia, Bangsa Berber sedang mantap-mantapnya belajar Islam. Mereka seakan-akan sedang menjadi “fresh graduate” dari kaderisasi yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi tabi’in yang digawangi langsung oleh Musa bin Nushair. Oleh karena itulah pembebasan Andalusia sangat fenomenal rasanya.

Bukan hanya setahun dua tahun, hubungan perseteruan antara Spanyol dan Maroko berlangsung berabad lamanya. Bahkan, ada sebuah kisah epik dimana muslimin Maroko berhasil menyelamatkan Andalusia yang hampir jatuh. Kerajaan Katolik Spanyol pernah bersatu padu untuk mengganyang peradaban Islam di sana pada abad 11. Di saat Andalusia hampir di ujung tanduk, datanglah bala bantuan tentara muslim dari Afrika Utara —Dinasti Murabithun yang beribukota di Marrakesh— dipimpin oleh seorang pemimpin besar bernama Yusuf bin Tasyfin. Terjadilah pertempuran besar bernama ‘Zallaqah’ yang berakhir dengan kemenangan mujahid.

Di zaman lainnya, saat Andalusia benar-benar hancur dan Kerajaan Katolik Spanyol merajai kota-kota muslimin, banyak penduduknya yang mengungsi ke Maroko. Dr Yasir Qadhi menulis, “Selama Inkuisisi Spanyol di tahun 1600-an, lebih dari 1 juta Muslim diusir dan dipaksa mengungsi ke Maroko. Secara statistik, beberapa pemain tim Maroko saat ini pasti merupakan keturunan dari mereka yang terusir dari Spanyol.”

Epic sekali tadabbur sejarah dari laga Maroko versus Spanyol ini. Masih ada banyak sekali hal-hal yang sayang jika tidak kita kupas secara mendalam. Namun, pada hari ini kami ingin pula mengajak teman-teman untuk merasakan duka mendalam. Ya, Maroko menang melawan Spanyol, namun di saat yang sama Maroko sedang berduka atas kepergian seorang ulama besar: wafatnya Syaikh Abdurrahman Al Kattani, rahimahullah.

Ulama legendaris kebanggaan Maroko dengan rantai hadits yang mungkin tertinggi di dunia, Syekh Abd al-Rahman Kattani, meninggal hari ini pada usia sekitar 107 tahun. Beliau —rahimahullah— meriwayatkan Sahih Bukhari dengan hanya 18 hubungan antara beliau dan penulisnya. Semoga Allah memberinya tempat tinggal terbaik, dan moga umat ini memiliki generasi baru yang akan meneruskan jejak langkahnya.

Informasi dan kerjasama bisa dikirim via e-mail: [email protected]

Bacaan Lainnya: