Bintang Tiga di Pundak Lionel Messi

Pemain Argentina Lionel Mesi merayakan kemenangan atas Kroasia dalam pertandingan semi final Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar, Selasa (13/12/2022). – (AP Photo/Martin Meissner)

Oleh: Anggoro Pramudya

LANGKATODAY.COM – Beban Lionel Messi dalam memikul panji timnas Argentina tidak semudah mengedipkan dua kelopak mata. Layaknya ‘Messiah’, Messi dinisbatkan banyak tifosi dapat memutus penantian panjang La Albiceleste untuk menyematkan bintang ketiga alias tiga kali meraih gelar piala dunia.

Roma tidak dibangun dalam sehari. Demikian adagium lawas yang populer sejak abad pertengahan menyerap dari frasa kuno Prancis. Ungkapan tersebut juga sebagai idiom bahasa Inggris untuk menekankan pentingnya sebuah proses. Tidak ada jalan instan menuju sebuah hasil, layaknya Lionel Messi dan mimpi negaranya.

Mudah saja untuk mengeklaim bahwasannya kesuksesan Argentina menembus babak final Piala Dunia 2022 usai mencukur Kroasia dengan skor 3-0 pada Rabu (14/12) dini hari merupakan andil besar penyerang Paris Saint-Germain (PSG) tersebut.

Messi sentris sedemikian melekat dalam ruh permainan Argentina di bawah pelatih Lionel Scaloni tahun ini. Lihat bagaimana ia berkontribusi dalam gol pertama Nahuel Molina saat bentrok melawan Belanda di partai perempat final dan aksi individunya ketika memberikan assist untuk gol kedua Julian Alvarez kontra Vatreni, julukan Kroasia.

Praktis, Messi terpilih sebagai man of the match laga semifinal kontra Kroasia. Untuk urusan man of the match Piala Dunia edisi ke-22, tak ada yang lebih baik daripada La Pulga, Si Kutu. Ia jadi pusat atensi, pun pemain pertama yang mengoleksi 10 gelar man of the match. Selama di Qatar, pemain berusia 35 tahun itu empat kali terpilih sebagai pemain terbaik.

Read More

Adapun dalam enam partai yang telah dimainkan, Messi hanya absen mencetak gol pada laga versus Polandia. Selebihnya, ia rajin mencatatkan nama di papan skor dengan total jumlah lima gol, tiga dari eksekusi penalti dan dua dari skema open play sejajar dengan koleksi striker Prancis Kylian Mbappe.

“Saya sangat bersemangat menjalani semua ini. Kami melewati sesuatu yang luar biasa selama Piala Dunia. Sekarang tinggal satu pertarungan lagi,” kata Messi purna laga, Rabu (14/12).

Paket datang dengan pasang dan surut. Surut seperti kekalahan 3-4 dari timnas Prancis di 16 besar Piala Dunia 2018. Dicukur Jerman 0-3 di perempat final Piala Dunia 2010, dan merana saat disaksikan jutaan pasang mata di final 2014 silam.

Akan tetapi, jalan Messi bersama Argentina untuk kembali ke partai final Piala Dunia merupakan premis dari kegagalan Tim Tango atas timnas Jerman di Stadion Maracana delapan tahun sebelumnya.

Detik berganti menit, menit berpindah jam, jam beralih hari, hari menjadi pekan, pekan bersalin bulan, bulan beranjak tahun, pun tahun berselimut dekade. Publik sepak bola Argentina kini kembali berharap Messi mampu mengakhiri dahaga yang telah lama dinanti sejak terakhir kali menjuarai piala dunia atau bintang kedua pada 1986.

Modal yang kuat sejatinya dimiliki Argentina untuk menjuarai trofi piala dunia ketiga mereka. Pasalnya, Tim Tango sudah membuktikan sebagai raja Amerika Latin usai merengkuh Copa America 2021. Selain itu, Angel Di Maria dan rekan setim datang dengan rekor mengilap 36 laga tak terkalahkan sebelum satu petaka hadir pada laga awal fase grup melawan Arab Saudi.

Hajatan terakbar sepak bola empat tahun kali ini diklaim merupakan petualangan terakhir Messi bersama Si Biru-Putih. Untuk itu, jika bernasib baik, Messi bisa saja meraih trofi juara, sepatu emas, bola emas, sekaligus menutup kisah sempurna bersama Argentina.

“Saya tidak ragu untuk bilang bahwa Messi adalah yang terbaik dalam sejarah. Saya mendapatkan keuntungan melatih dan melihatnya bermain,” puji pelatih Lionel Scaloni.

Singkatnya, tanpa disadari ajang Piala Dunia adalah momen unjuk individualitas yang dibungkus dengan janji patriotisme. Apabila Messi sukses mengakhiri karier profesionalnya dengan trofi Piala Dunia serta dicap sebagai G.O.A.T dalam dunia sepak bola, maka kubu Cristiano Ronaldo patut berbesar hati menerima sang idola berada di bawah bayang La Pulga.

Kontroversi Penalti

Kemenangan Argentina atas Kroasia 3-0 pada babak semifinal Piala Dunia 2022 menyisakan perdebatan bagi beberapa pengamat sepak bola dunia. Satu dari dua gol Argentina dicetak kapten Lionel Messi melalui titik putih.

Sorotan tertuju kepada keputusan wasit Daniele Orsato asal Italia. Putusan Orsato yang menunjuk titik putih usai pelanggaran kiper Dominik Livakovic terhadap Julian Alvarez menimbulkan banyak perdebatan. Mantan kapten Inggris yang sempat menjabat sebagai pelatih Valencia, Gary Neville merasa Daniele Orsato menjatuhkan putusan yang kurang tepat.

“Tidak, seharusnya bukan penalti. Kiper keluar dan pada dasarnya ia membuat gerakan untuk menghentikan tembakan bukan mencoba menjegal Alvarez,” tulis Neville dalam akun Twitter pribadinya.

Legenda Arsenal, Ian Wright setuju dengan argumentasi Neville. Ia menilai, Livakovic berhenti sebelum melakukan reaksi dan tidak berpikir untuk menabrak penyerang milik Manchester City itu. “Ketika Anda melihatnya, penyerang tengah, jujur saja dia salah menendang,” sambung Ian Wright.

Adapun mantan kapten Manchester United, Roy Keane, berbagi sentimen yang sama, menunjukkan bahwa pertahanan Kroasia berantakan, meski keputusan menunjuk titik putih adalah hal yang berbeda. “Pertahanan buruk secara keseluruhan. Tapi saya setuju bahwa itu tidak penalti,” kata Roy Keane.

Sebaliknya, Alan Shearer membalas apabila itu murni penalti karena reaksi awal adalah penalti. “Melihat tayangan ulang saya yakin itu penalti. Alvarez sangat bagus posisinya terbuka lebar dan Livakovic menjatuhkannya. Bagi saya penalti adalah keputusan tepat.”

-----------

Ikuti kabar terkini lainnya di Google News

Butuh Website? Hubungi Dapur Website Indonesia

Related posts