Ksatria Andalusia, Musa bin Ghassan Rahimahullahu Ta’ala

Langkatoday.com, Stabat – Ketika Andalusia berada di ujung kematian, Granada adalah benteng terakhir Islam di Andalusia, sehingga Spanyol mengepungnya dengan hebat sampai

Kekuatan dan tekad Muslimin Andalusia habis, kecuali satu orang yang tekad dan kemauannya tidak binasa, yaitu Musa bin Abi Ghassan, ksatria Granada.

Musa bin Abi Ghassan memiliki nasab keluarga yang terhubung sampai ke kerajaan, dan sejak masa mudanya dia mahir dalam seni berkuda dan bela diri.

Baca Juga

Dan ketika semakin perang semakin panas, dia memimpin pasukan untuk maju ke wilayah musuh. Sejak saat itu dia membenci raja Granada yaitu Abu Abdurrahman As Shaghir itu karena ketundukannya dan kepasrahanya terhadap orang-orang Kristen.

Raja As Shaghir beserta para petinggi istana dan para ulama yang sesat, mengadakan pertemuan untuk membahas tentang penyerahan Granada, maka raja As Shaghir terdiam dan mengatakan perkataan yang Bathil

“Allahu Akbar, Allahu akbar, tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah, jihad dan usaha kita yang benrtentangan dengan kehendak Allah adalah bathil, dan sesungguhnya Allah telah menuliskan di Lauhil Maftudz bahwa aku akan mengalami kesulitan dan sesungguhnya kerajaan ini akan hilang dari tangaku,” Mendengar itu para petinggi kerajaaan dan ulama yang sesat berkata, “Allahu Akbar, tidak ada kebohongan dan keburukan dalam ketetapan Allah”.

Raja As Shaghir mengatakan perkataan yang bathil, yang membuat semua orang pasrah dalam kehendak Allah yang berakhir dengan kekalahan muslimin, penindasan dan penghinaan.

Baca Juga
1 of 159

Mendengar apa yang di bicarakan Raja dan para ulama dan petinggi, maka Musa bin Abi Ghassan keluar mengajak dan mendesak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad dan mengingatkan mereka tentang apa yang dilakukan orang-orang Kristen terhadap orang-orang Muslim yang di jinakkan di kota-kota Andalusia yang menyerah kepada mereka dan Musa bin Abi Ghassan berkata kepada mereka,

“Biarlah raja-raja Kristen tahu bahwa orang Arab lahir dari kuda dan tombak, maka sesungguhnya kuburan di bawah istana granada lebih baik bagiku, dari pada aku menyerah dan tunduk terhadap musuh”

Maka orang-orang yang mendegar ucapan Musa bin Abi Ghassan menangis dan Musa berkata kepada mereka:

“Tinggalkanlah semua keluh kesah wanita dan anak-anak, kita adalah laki-laki yang di hatinya tidak diciptakan untuk meneteskan air mata, tetapi kita lelaki yang hatinya di ciptakan untuk meneteskan darah, lebih baik aku termasuk di antara mereka yang mati sebagi Syahid dalam membela Granada, daripada terhitung di bersama mereka yang menyaksikan penyerahan Granada”

Maka Musa bin Abi Ghassan maju dan keluar menuju pasukan musuh dan menyerang sekelompok pasukan kristen dengan ayunan pedang yang kuat dan menghancurkan, Ia membunuh membunuh sebagian pasukan musuh, kemudian kudanya terbunuh dan ia terjatuh darinya dan ia membunuh musuh dengan tusukan yang besar maka pedangnya terjatuh darinya dan iapun mengambil pisau belatinya dan terus berperang dengannya sampai ia gugur sebagai syahid, insya Allah. Semoga Allah mengampuni Mujahid Granada.

Musa bin Abi Ghassan mengajarkan Umat hari ini untuk tidak tunduk dan menyerah terhadap musuh Islam dan tidak menerima dunia dalam agama.

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang percaya terhadap apa yang telah Allah janjikan terhadap mereka” (Al Ahzab: 23)

*Tinta Sejarah islam

Postingan Lainnya