Seharian Serang Gaza, Israel Bunuh 15 Warga, Termasuk 4 Jurnalis
GAZA (Langkatoday) - Serangan Israel ke Jalur Gaza selama 24 jam terakhir pada Sabtu hingga Ahad kemarin menyebabkan 15 orang, termasuk empat jurnalis, terbunuh. Serangan tersebut dilancarkan ketika perpanjangan gencatan senjata di Gaza tengah diupayakan.
Kementerian Kesehatan di Gaza mengungkapkan, dari 15 korban jiwa, sebagian besar terbunuh dalam serangan Israel ke Beit Lahiya pada Sabtu (15/3). Sebanyak sembilan orang, termasuk empat jurnalis, kehilangan nyawanya terimbas serangan Israel.
Militer Israel mengakui meluncurkan serangan tersebut. Mereka mengatakan enam lelaki yang merupakan anggota sayap bersenjata Hamas dan Jihad Islam, terbunuh dalam serangan itu. Israel mengklaim, beberapa di antara korban memang menyamar sebagai jurnalis.
Kepala kantor media otoritas Gaza, Salama Marouf, mengatakan pernyataan militer Israel terkait serangan ke Beit Lahiya mencantumkan nama-nama orang yang tak ada di lokasi serangan. Menurutnya pernyataan tersebut didasarkan pada laporan media sosial yang tak akurat.
"Tanpa repot memverifikasi fakta," ujar Marouf.
Dalam serangan Israel terpisah ke Gaza pada Sabtu lalu, sebanyak empat orang terbunuh. Pada Ahad (16/3), pesawat nirawak Israel juga meluncurkan serangan ke Juhr Eldeek di pusat Gaza.
Menurut keterangan otoritas kesehatan di Gaza, serangan itu menyebabkan seorang kakek berusia 62 tahun terbunuh dan beberapa warga lainnya mengalami luka-luka.
Serangan drone Israel ke Rafah juga menyebabkan sejumlah orang terluka. Kendati demikian, militer Israel mengklaim bahwa mereka tak familiar dengan serangan-serangan drone tersebut.
Pada Ahad lalu, Israel juga meluncurkan serangan ke lingkungan Zeitoun di Kota Gaza. Militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut mengincar "teroris" yang berusaha menanam bom.
Saat ini belum ada kejelasan terkait kelanjutan gencatan senjata di Gaza. Kelompok Hamas menghendaki agar gencatan senjata dilanjutkan ke fase kedua. Sementara Israel menginginkan agar masa gencatan senjata fase pertama diperpanjang.
Pada Jumat (14/3) lalu, Hamas menyampaikan bahwa mereka bersedia membebaskan tentara berkewarganegaraan Israel-Amerika yang masih berada dalam tawanan. Hamas pun siap memulangkan empat jenazah tawanan yang tewas akibat berlangsungnya pertempuran sejak 7 Oktober 2023.
Namun Hamas menyatakan pembebasan dan pengembalian jenazah para tawanan akan dilakukan jika Israel bersedia untuk mendiskusikan kesepakatan gencatan senjata fase kedua di Gaza. Merespons hal itu, Israel justru menuduh Hamas mengobarkan perang urat saraf terhadap keluarga para sandera.
Hamas dan Israel sudah melaksanakan gencatan senjata sejak 19 Januari 2025. Kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas diproyeksikan berlangsung selama 90 hari. Jika kesepakatan berjalan mulus, Israel bakal mundur sepenuhnya dari Gaza dan Hamas akan membebaskan semua warga Israel yang menjadi tawanan. Jasad dari tawanan yang terbunuh akibat serangan Israel juga bakal dikembalikan.
Fase pertama gencatan senjata telah berakhir pada 1 Maret 2025 lalu. Sejak itu, Israel memberlakukan blokade total pada semua barang yang memasuki Gaza. Tel Aviv pun menuntut Hamas membebaskan sandera yang tersisa tanpa memulai negosiasi untuk mengakhiri perang. (rel/rol)